Teori Perubahan Sosial Budaya, Pitirim A sorokin
Teori Perubahan Sosial Menurut Pitirim A sorokin
Pitirim A
Sorokin merupakan salah satu sosiolog yang terkenal, pitirim sendiri lahir di
Rusia pada tahun 1889 di rusia dan memperoleh pendidikan di Universitas St.
Petersburg. Setelah mendapatkan kedudukan akademis di sana, ia kemudian
mendirikan Departemen sosiologi, iapun menjadi ketua di departemen
tersebut. Pada awalnya, karier Sorokin terganggu oleh adanya revolusi komunis
pada waktu itu, sebab pitirim merupakan salah satu orang yang anti komunisme.
Oleh karena itu, iapun pernah ditahan dan dijatuhi hukuman mati, akan tetapi
hukuman tersebut akhirnya diubah dan diganti dengan hukuman pembuangan. Sorokin
pun akhirnya dibuang di cekoslowakia. Pada tahun 1924, ia kemudian pindah ke
Amerika Serikaat, di sana ia bergabung dengan Universitas Harvard, dan beberapa
tahun kemudian mendirikan Center For Creative Altruism. Pitirim juga memiliki
banyak karya, diantaraya yaitu: Social Cultural and Dynamics (1941), The
Crisis of Our Age (1941), Society, Culture and Personality (1947).
Sorokinpun
juga menjelaskan beberapa teori teori mengenai sosiologi, diantaranya yang
pertama yaitu tentang teori siklus perubahan sosial. Sorokin memusatkan
perhatiannya pada tingkat budaya, dengan menekankan pada arti, nilai, norma dan
simbol sebagai kunci untuk memahami kenyataan sosial-budaya. Sorokin juga
menekankan adanya saling ketergantungan antara pola-pola budaya. Ia percaya
bahwa masyarakat adalah suatu sistem interaksi dan kepribadian individual.
Tingkat tertinggi integrasi sistem-sistem sosial yang paling mungkin didasari pada
seperangkat arti, nilai, norma hukum yang secara logis dan tetap mengatur
interaksi antara kepribadian-kepribadian yang ada didalam masyarakat. Tingkat
yang paling rendah dimana kenyataan sosial-budaya dapat dianalisa pada tingkat
interaksi antara 2 orang atau lebih. Sorokin mengemukakan teori yang berlainan,
ia menerima teori siklus seperti hukum fatum ala Oswald Spengler dalam karya
yang berpengaruhnya Der Untergang des Abendlandes (Decline of the
West) atau Keruntuhan Dunia Barat/Eropa. Spengler meramalkan keruntuhan
Eropa yang didasarkan atas keyakinan bahwa gerak sejarah ditentukan oleh hukum
alam. Dalil Spengler ialah bahwa kehidupan sebuah kebudayaan dalam
segalanya sama dengan kehidupan tumbuhan, hewan, manusia dan alam semesta.
Persamaan itu berdasarkan kehidupan yang dikuasai oleh hukum siklus sebagai
wujud dari fatum. Sorokin menilai gerak sejarah dengan gaya, irama dan
corak ragam yang kaya raya dipermudah, dipersingkat dan disederhanakan sehingga
menjadi teori siklus. Sorokin menyatakan bahwa gerak sejarah menunjukkan fluctuation
of age to age, yaitu naik turun, pasang surut, timbul tenggelam. Ia
menyatakan adanya cultural universal dan di dalam alam kebudayaan itu terdapat
masyarakat dan aliran kebudayaan. Di alam yang luas ini terdapat 3 tipe yang
tertentu, yaitu pertama, sistem ideasional, yaitu kerohanian, keagamaan,
ketuhanan, dan kepercayaan.kedua yaitu, sistem inderawi, yaitu serba jasmaniah,
mengenai keduniawian, dan berpusat pada pancaindera. Ketiga yaitu, sistem
campuran, yaitu perpaduan dua sistem sebelumnya (idealistic).
Teori kedua
yang diungkapkan oleh Sorokin yaitu mengenai Intergrasi sosial dan budaya. Satu
alaasan yang memungkinkan martindale melihat Sorokin sebagai seorang organisis,
dapat dilihat pada tekanan Sorokin pada pemahaman system sosio-budaya secara
keseluruhan. Prespektif organis menekannkan kenyataan masyarakat yang
independen dan tradisi-tradisi budayanya sebagai suatu system yang intregritas.
Analisa Sorokin mengenai dinamika system-sistem sosio budaya yang terintregitas
secara luas dalam empat karangan utamanya, Social and Culture Dynamic, sejalan
dengan pendekatan ini. Alasan penting lainnya untuk melihat Sorokin sebagai
seorang ahli teori organis tanpa asumsi-asumsi positivis adalah penolakan
Sorokin untuk membatasi konsepnya mengenai kebenaran pada data empiris,
sebaliknya dia menunjukkan suatu kerelaan untuk menerima suatu konsep mengenai
kebenaran dan pengetahuan yang bersifat multidimensi, dengan data empiris
memberikan sebagian pengetahuan. Sejalan dengan penekanan Sorokin pada
arti-arti subyektif, hal itu memisahkan dia dari kelompok-kelompok positivis
yang menekankan pada empiris sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang sah.
Sorokin
sendiri menilai tidak tepat klasifikasi Martindale yang memasukkan pendekatannya
kedalam suatu prespektif organis. Bukan mengasumsikan integrasi menyeluruh yang
ditekankan Sorokin. Dia menekankan pentingnya mengetahui tingkat integrasi yang
berbeda, dan mengkhususkan tingkat dimana aspek-aspek yang berbeda dalam
kenyataan sosio-budaya itu dapat dikatakan terintegrasikan. Juga berbeda sekali
dengan penekanan kelompok organis pada pola-pola pertumbuhan dan kemunduran
yang tidak berubah yang dilalui system-sistem budaya. Sorokin menekankan
tingkat variabilitas yang tinggi yang diperlihatkannya. Tema-tema budaya dasar
mungkin terulang, tetapi pengulangan itu menunjukkan pola-pola yang
berubah. Setiap tahap sejarah masyarakat memperlihatkan beberapa unsur yang
kembali berulang (artinya, pengulangan tahap yang terdahulu) dan ada beberapa
daripadanya yang unik. Sorokin mengacu pada pola-pola perubahan budaya jangka
panjang yang bersifat “berulang-berubah” (Varyingly Recurrent ).
Penekanan
Sorokin pada berulangnya tema-tema dasar dimaksudkan untuk menolak gagasan
bahwa perubahan sejarah dapat dilihat sebagai suatu proses linear yang meliputi
gerak dalam satu arah saja dalam hal ini Sorokin berbeda dari Comte yang
percaya akan kemajuan yang mantap dalam perkembangan intelektual manusia.
Pendekatan
Sorokin yang bersifat “integralis” itu memungkinkan dia untuk mengkritik dengan
keras gagasan bahwa semua pengetahuan kita akhirnya berasal dari data empiris.
Sebaliknya dia mengemukakan bahwa data empiris hanya memperlihatkan satu tipe
kebenaran. Yakni kebenaran indrawi. Juga ada kebenaran akal budi dan yang
ketiga adalah kebenaran kepercayaan atau intuisi,yang melampaui data indrawi
dan rasional.
B. Relevansi
Teori Pitirim A Sorokin:
Dalam peranannya sebagai seorang
sosiolog, Sorokin telah menyubang beberapa teori diantaranya yaitu teori tentang
tipe tipe mentalitas budaya. Teori tersebut merupakan kunci untuk memahami
sistem budaya yang terintergrasi, yaitu dengan menggunakan teori mentalitas
budaya tersebut. Dalam teorinya, Sorokin menjelaskan ada tiga jenis mentalitas
budaya yang pertama yaitu kebudayaan ideasional.
Kebudayaan
ideasional ini dapat diartikan sebagai dasar berpikir bahwa kenyataan akhir itu
bersifat nonmaterial dan tidak dapat ditangkap dengan mata. Teori ini juga
mengatakan bahwa dunia ini dilihat sebagai suatu ilusi, dan sementara atau
dapat diartikan sebagai aspek kenyataan yang tidak sempurna dan tidak lengkap.
Hal ini dapat kita lihat pada saat ini bahwa di zaman modern ini terdapat
beberapa agama dan kepercayaan yang masih dipegang teguh oleh masyarakat, dan
karena itu juga masyarakat juga masih mempercayai adanya tuhan walaupun
individu maupun masyarakat manapun tidak dapat melihatnya. Dalam teori ini juga
mengartikan bahwa, dunia yang kita tempati sekarang ini merupakan dunia yang
abadi, melainkan dunia yang masih sementara, atau masih ada lagi dunia setelah
ini yang lebih kita kenal dengan dunia akhirat. Dalam teori ini juga
menjelaskan bahwa manusia harus menyeimbangkan antara kepentingan duniawi
dengan kepentingan religious atau akhirat.
Teori selanjutnya yaitu teori kebudayaan
inderawi, jika pada teori sebelumnya menganggap bahwa kita harus menyeimbangkan
antara kepentingan dunia dan akhirat, pada teori kebudayaan inderawi malah
sebaliknya, kita harus lebih terorientasi pada kepentingan duniawi. Dalam teori
ini dikatakan bahwa dunia materill yang kita alami dengan indera kita merupakan
satu satunya kenyataan yang ada. Artinya, bahwa dunia yang kita tempait
sekarang merupakan satu satunya tempat tinggal kita, dan tidak ada lagi dunia
yang lainnya. kebudayaan inderawi deibagi menjadi tigaa bagian yaitu kebudayaan
inderawi aktif, kebudayaan inderawi pasif, dan kebudayaan inderawi sinis.
Kebudayaan inderawi aktif, mendorong usaha manusia untuk berusaha aktif dan
giat untuk meningkatkan sebanyak mungkin pemenuhan kebutuhan materill dengan
mengubah dunia fisik ini sedemikian, sehingga menghasilkan sumber sumber
kepuasan dan kesenangan bersama. Pada intinya teori ini menjelaskan bahwa
pemenuhan kebutuhan duniawi sangatlah penting daripada kebutuhan akhirat. Teori
ini pada akhirnya mendasari pemikiran manusia terhadap perkembangan teknologi
dan ilmu pengetahuan pada saat sekarang ini. Misalnya saja dapat kita lihat,
jika pada zaman dahulu masih banyak hutan lebat di Indonesia, akan tetapi saat
sekarang hutan hutan tersebut menghilang dan digantikan sebagai lahan pertanian
maupun pemukiman, di sisi lain banyak bermunculan tambang tambang emas dan
minyka bumi yang berada di wilayah Indonesia. Dalam kebudayaan inderawi pasif,
menjelaskan bahwa masyarakat memiliki hasrat untuk mengalami kesenangan
kesenangan hidup duniawi setinggi tingginya. Dalam arti, manusia mempunyai
hasrat hedonisme seperti apa yang kita lami sekarang ini. Sedangakan kebudayaan
kebudayaan sinis, manusia ditekankan pada aspek rasional atau pemikiran secara
logika atau hanya mempercayai kenyataan yang ada. Pada dasarnya, teori ini
memperlihatkan secara mendasar usaha manusia yang bersifat munafik untuk
membenarkan pencapaian tujuan materialistis, misalnya kita dapat menganggap
bahwa keberhasilan atau keberuntungan yang kita dapatkan selama ini merupakan
hasil kerja keras kita dan bukan pemberian atau karunia dari Tuhan Yang Maha
Esa. Hal ini juga dapat menunjukkan bahwa manusia juga memiliki hasrat untuk
tidak mempercayai adanya tuhan atau atheis.
Dan teori
terakhir yaitu teori kebudayaan campuran. Teori ini merupakan penegasan antara
teori ideasional dan inderawi. Tentunya jika kita menganalisis, terdapat
persamaan antara teori mentalitas budaya Sorokin dengan teori jenjang tiga
tahap milik auguste Comte. Pada dasarnya kedua terori ini memiliki gagasan
dasar yang terkandung dalam pandangan dunia yang dominan atau gaya berpikir
sebagai acuan untuk memahami kenyataaan sosial budaya di sekeliling kita,
sedangkan perbedaannya, teori Comte tidak bersifat linier atau siklus. Teori
Comte mengemkakan bhwa sejarah manusia menunjukkan kemajuan unlinier, yang
didasarkan pada perkembangan ilmu, yang akan bergerak maju terus menerus ke
masa depan. Dalam arti, bahwa salah satu fase dari tiga tahap tersebut tidak
akan terulang kembali oleh manusia. Sedangkan pada pendapat sosrokin, ia
menjelaskan bahwa pada dasarnya jenjang tiga tahap yang dikemukakan oleh Comte
merupakan siklus yang akan berulang ulang dan akan dialami terus oleh manusia.
Label:
Materi kuliah
TEORI PERUBAHAN SOSIAL MENURUT BEBERAPA AHLI
TEORI PERUBAHAN SOSIAL MENURUT BEBERAPA AHLI
1. Pitirim A. Sorokin
Seorang ahli sosiologi Rusia yang pindah ke Amerika Serikat. Ia merupakan penganut Teori Siklus. Ia berpandangan bahwa semua peradaban besar di dunia berada dalam siklus 3 sistem kebudayaan yang berputar tanpa akhir, yaitu:Kebudayaan ideasional
Didasari oleh nilai dan kepercayaan terhadap unsur adikodrati (supranatural).Kebudayaan idealistis
Perpaduan antara unsur kepercayaan terhadap unsur adikodrati dan rasionalitas berdasar fakta dalam membentuk masyarakat ideal.
Kebudayaan sensasi
Sensasi menjadi tolak ukur dari kenyataan dan tujuan hidup.
Dalam “Social and Cultural Dynamics”, Sorokin menilai peradaban modern adalah peradaban yang rapuh dan tidak lama lagi akan runtuh dan selanjutnya berubah menjadi kebudayaan ideasional yang baru. Dalam suatu perubahan yang terpenting adalah tentang proses sosial yang saling berkaitan. Sorokin juga memberikan pengertian tentang proses sosial yaitu sebuah perubahan subyek tertentu dalam perjalanan waktu, entah itu perubahan tempatnya dalam ruang atau modifikasi aspek kuantitatif atau kualitatifnya.
2. Arnold Toynbee
Seorang sejarawan Inggris yang juga menilai bahwa peradaban besar berada dalam siklus kelahiran, pertumbuhan, keruntuhan dan kematian. Menurut Toynbee, ke-21 (dua puluh satu) peradaban besar muncul untuk menjawab tantangan tertentu tapi semuanya telah punah, kecuali peradaban barat yang dewasa ini menuju ke tahap kepunahan (1935 – 1961).
3. William F. Ogburn
Seorang sosiologi Amerika, merupakan ilmuan pertama yang melakukan penelitian terinci menyangkut proses perubahan sosial.
William F. Ogburn juga menyatakan bahwa perubahan sosial mencakup unsur-unsur kebudayaan baik material maupun non material. Ogburn berpendapat bahwa budaya material berubah lebih cepat dibandingkan dengan budaya non material yang dapat menyebabkan terjadinya cultural lag.
4. Neil Smelsel
Memberikan pendekatan yang lebih komprehensif dalam munculnya perilaku kolektif, menurutnya ada 6 syarat pra kondisi yang harus terjadi yaitu struktural (structural conduciveness), ketegangan struktural (structural strain), munculnya dan penyebaran pandangan, faktor pemercepat, dan mobilitas tindakan.
5. Ibnu Khaldun
Ibnu Khaldun mencetus pemikiran baru apabila menyatakan sistem sosial manusia berubah mengikut kemampuannya berfikir, keadaan muka bumi persekitaran mereka, pengaruh iklim, makanan, emosi serta jiwa manusia itu sendiri. Beliau juga berpendapat institusi masyarakat berkembang mengikuti tahapnya dengan tertib bermula dengan tahap primitif, pemilikan, diikuti tahap peradaban dan kemakmuran sebelum tahap kemunduran. Pandangan Ibnu Khaldun dikagumi tokoh sejarah berketurunan Yahudi, yaitu Prof. Emeritus, Dr. Bernerd Lewis yang menyifatkan tokoh ilmuwan itu sebagai ahli sejarah Arab yang hebat pada zaman pertengahan. Demikian, Ibnu Khaldun tampil sendiri sebagai genius sejarah terbesar dari Islam yang pertama melahirkan suatu konsepsi filosofis dan sosiologis tentang sejarah. Jika dalam buku “Ideas and History”, Cromwell disebut sebagai “Pembuat Sejarah” tetapi tak pernah menulis sejarah, maka Ibnu Khaldun adalah pembuat sejarah dan sekaligus penulis sejarah.
6. Emile Durkheim
Melihat perubahan sosial terjadi sebagai hasil dari faktor-faktor ekologis dan demografis, yang mengubah kehidupan masyarakat dari kondisi tradisional yang diikat solidaritas mekanistik, ke dalam kondisi masyarakat modern yang diikat oleh solidaritas organistik.
7. Max Weber
Pada dasarnya melihat perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat adalah akibat dari pergeseran nilai yang dijadikan orientasi kehidupan masyarakat. Dalam hal ini dicontohkan masyarakat Eropa yang sekian lama terbelenggu oleh nilai Katolikisme Ortodoks, kemudian berkembang pesat kehidupan sosial ekonominya atas dorongan dari nilai Protestanisme yang dirasakan lebih rasional dan lebih sesuai dengan tuntutan kehidupan modern.
8. Talcott Parsons
Melahirkan teori fungsional tentang perubahan. Seperti para pendahulunya, Parsons juga menganalogikan perubahan sosial pada masyarakat seperti halnya pertumbuhan pada makhluk hidup. Komponen utama pemikiran Parsons adalah adanya proses diferensiasi. Parsons berasumsi bahwa setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang berbeda berdasarkan strukturnya maupun berdasarkan makna fungsionalnya bagi masyarakat yang lebih luas. Ketika masyarakat berubah, umumnya masyarakat tersebut akan tumbuh dengan kemampuan yang lebih baik untuk menanggulangi permasalahan hidupnya. Dapat dikatakan Parsons termasuk dalam golongan yang memandang optimis sebuah proses perubahan sosial. Bahasan tentang struktural fungsional Parsons ini akan diawali dengan empat fungsi yang penting untuk semua sistem tindakan. Suatu fungsi adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan pada pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem. Parsons menyampaikan empat fungsi yang harus dimiliki oleh sebuah sistem agar mampu bertahan, yaitu:
Adaptasi, sebuah sistem harus mampu menanggulangi situasi eksternal yang gawat. Sistem harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Pencapaian, sebuah sistem harus mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya.
Integrasi, sebuah sistem harus mengatur hubungan antar bagian yang menjadi komponennya. Sistem juga harus dapat mengelola hubungan antara ketiga fungsi penting lainnya.
Pemeliharaan pola, sebuah sistem harus melengkapi, memelihara dan memperbaiki motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi.
Label:
Materi kuliah
Teori Perubahan Sosial Max Weber
Teori Perubahan Sosial Max Weber
Max Weber lebih cenderung menganggap bahwa interaksi sosial sangat terkait dengan prilakumanusia. Olehnya itu penelitian mengarah kepada prilaku manusia dan sebab-sebab terjadinyainteraksi sosial. Selain Itu max Weber lebih cendrung kepada prilaku sosial sebagai usahamelakukan aksi-aksi sosial. Teori yang terkenal adalah methode of understanding dan ideal typusyaitu suatu konstruksi dalam fikiran peneliti yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengalisisgejala-gejala dalam masyarakat.Dari beberapa pandangan tersebut maka sesungguhnya tidak akan cukup untuk menjelaskansecara rinci tentang perubahan sosial. Akan tetapi dari beberapa pandaangan tersebut dapatdipahami bahwa perubahan sosial mutlak terjadi sejalan dengan perubahan pada masyarakat itu sendiri.
Perspektif Idealis
Berbeda dengan kubu materialis yang memandang bahwa faktor budaya material yang menyebabkanperubahan sosial, perspektif idealis melihat bahwa perubahan sosial disebabkan oleh faktor nonmaterial. Faktor non material ini antara lain ide, nilai dan ideologi. Ide merujuk pada pengetahuan dankepercayaan, nilai merupakan anggapan terhadap sesuatu yang pantas atau tidak pantas, sedangkanideologi berarti serangkaian kepercayaan dan nilai yang digunakan untuk membenarkan ataumelegitimasi bentuk tindakan masyarakat.Salah satu pemikir dalam kubu idealis adalah Weber. Weber memiliki pendapat yang berbeda denganMarx. Perkembangan industrial kapitalis tidak dapat dipahami hanya dengan membahas faktorpenyebab yang bersifat material dan teknik. Namun demikian Weber juga tidak menyangkal pengaruhkedua faktor tersebut. Pemikiran Weber yang dapat berpengaruh pada teori perubahan sosial adalahdari bentuk rasionalisme yang dimiliki. Dalam kehidupan masyarakat barat model rasionalisme akanmewarnai semua aspek kehidupan. Menurut Webar, rasionalitas memiliki empat macam model, yaitu :1. Rasionalitas tradisional.2. Rasionalitas yang berorientasi nilai.3. Rasionalitas afektif.4. Rasionalitas instrumental.Weber melihat bahwa pada wilayah Eropa yang mempunyai perkembangan industrial kapital pesatadalah wilayah yang mempunyai penganut protestan. Bagi Weber, ini bukan suatu kebetulan semata.Nilai-nilai protestan menghasilkan etik budaya yang menunjang perkembangan industrial kapitalis.Protestan Calvinis merupakan dasar pemikiran etika protestan yang menganjurkan manusia untukbekerja keras, hidup hemat dan menabung. Pada kondisi material yang hampir sama, industrial kapitalternyata tidak berkembang di wilayah dengan mayoritas Katholik, yang tentu saja tidak mempunyaietika protestan.Tokoh lain adalah Lewy yang memperjelas pendapat Weber tentang peranan agama dalam perubahansosial. Lewy mengambil contoh sejarah yang menggambarkan bahwa nilai-nilai agama mempengaruhiarah perubahan. Dia menyebutkan adanya pemberontakan Puritan di Inggris, kebangkitan kembali Islamdi Sudan, pemberontakan taiping dan boxer di China. Seperti halnya Weber, Lewy tidak menyangkalbahwa kondisi material mempengaruhi perubahan sosial. Namun demikian kita tidak dapat hanyamemahami perubahan sosial yang terjadi hanya dari faktor material saja.
Label:
Materi kuliah
Ibn Khaldun
TUGASPERUBAHAN SOSIAL DAN BUDAYA“ IBN KHALDUN “
OLEH
:
MARTYAN
MITA RUMEKTI 12413241016
NURUL
KAMILLA AHMAD 12413241018
RETNO
WAHYUNINGSIH 12413241026
PENDIDIKAN SOSIOLOGI 2012 A
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2013
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dunia
yang mengalami perubahan memerlukan adanya cara dan usaha untuk mendefinisikan
serta memaknainya. Dalam kehidupan sosial selalu muncul masalah sosial dan itu
muncul karena social creation yang tercipta sebagai hasil dari pemikiran
manusia dalam kebudayaan yang terdapat dalam suatu masyarakat, akibat langsung
dari interaksi sosial dalam suatu keadaan tertentu dan konteks sosio – politik
tertentu. Masalah sosial memerlukan cara untuk menjelaskannya, memerlukan
metode untuk menemukan hukum-hukum dasar.
Dalam
konteks perubahan dan kemunculan sejumlah masalah sosial dalam masyarakat dalam
beragam isunya. Perubahan sosial yang berlangsung belakangan ini telah
membentuk struktur sosial yang baru, membentuk relasi sosial yang baru, dan
hubungan-hubungan sosial yang mencerminkan nilai-nilai yang berubah.
B. Rumusan
Masalah
1. Siapakah
Ibn Khaldun?
2. Bagaimana
pandangan Ibn Khaldun mengenai perubahan sosial dan budaya di masyarakat?
3. Teori
apa saja yang dikemukakan oleh Ibn Khaldun?
C. Manfaat
1. Untuk
mengetahui latar belakang Ibn Khaldun.
2. Untuk
mengetahui mengenai perubahan sosial dan budaya menurut Ibn Khaldun
3. Mengetahui
tentang teori-teori yang dikemukakan oleh Ibn Khaldun.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar
Belakang Ibn Khaldun
Ibn
Khaldun seorang tokoh dan pemikir muslim, nama lengkapnya Abd al-Rohman (Abu
Zaid) bin Muhammad bin Abi Bakar bin Hasan. Ia dilahirkan di Trus pada tanggal
17 Mei 1332 M, dari keluarga Aristokrat yang berasal dari Hadramaut, dan wafat
di Kairo pada 17 Maret 1406 M.
Dua
buah karyanya yang terbesar yaitu kitab al-Ibrar danMuqadimah
Ibn Khaldun yang selesai di tulis pada tahun 1377 M. Muhsin Mahdi
mengemukakan bahwa Ibn Khaldun tidak menulis karya bidang sejarah seperti
lazimnya di zaman itu, tetapi menyusun suatu karya bercorak baru yang belum di
kenal sebelumnya. Dengan cara ini Ibn Khaldun melakukan perubahan dalam
penulisan sejarah dengan melakukan analisis mendalam tentang peristiwa sejarah. Ibnu
Khaldun terkenal pula dengan suatu teori yang disebut “Ashabiyah” yakni
adanya persamaan kepentingan sebagai akibat dari adanya saling ketergantungan
dalam memenuhi kebutuhan tertentu menyebabkan orang bergabung dan bersatu dalam
kelompoknya dan mematuhi ketentuan-ketentuan yang disepakati bersama. Ibn
Khaldun mengatakan bahwa Ashabiyah muncul karena empat sebab, yakni :
1. Ikatan darah atau keturunan dan
kerabat
2. Ikatan perjanjian atau persekuruan
3. Ikatan yang timbul karena hubungan
perlindungan dengan yang dilindungi karena bergabungnya seseorang atau
sekelompok dengan kelompok lain dan menyatakan loyal terhadap kelompok yang
melindunginya.
4. Ikatan agama
B. Transformasi
dan Perubahan Sosial menurut Ibn Khaldun
Masyarakat
yang selalu berubah, dinamis dan heterogen. Antara masyarakat satu dengan
masyarakat yang lain memiliki
akar sejarah yang berbeda, memiliki kerangka norma, nilai dan aturan yang khas
masing-masing mempunyai identitas dan ideologi yang di anut secara kolektif.
Ibn Khaldun melihat kehidupan nomaden
( berpindah-pindah ) dengan kehidupan menetap
dengan ciri yang memiliki nilai dan norma masing-masing.
Ashobiyah
dalam pemikiran Ibn Khaldun memiliki konotasi positif yakni sebagai piranti
solidaritas sosial atau ketidaksetiakawanan kelompok dan suku. Ibn Khaldun
sendiri sebenarnya menyadari makna negatif dari konsepnya tentang ashobiyah dan banyak pihak menunduh
konsep itu sebagai pemicu konflik atau kekerasan antar suku. Namun demikian, ashobiyah dimaknai sebagai upaya untuk
mempersiapkan masyarakat menuju pada perubahan dalam struktur sosial dan
politik serta perubahan pada level kultur dan kebudayaan. Dengan ashobiyah tersebut masyarakat menuju
pada kemajuan. Menurut Ibn Khaldun, semakin kuat ashobiyah dalam suatu komunitas akan meningkatkan komitmen suatu
masyarakat, sebaliknya semakin rendah dan longgarnya ashobiyah akan membawa pada konflik dan disintegrasi sosial.
Kekuatan ashobiyah atau solidaritas dalam suatu komunitas atau suku akan
membawa dampak pada meningkatnya kehidupan sosial masyarakat. Menurut ibn
Khaldun, ashobiyah meliputi kelompok
manusia primitif (badw) dan kelompok
manusia berbudaya ( hadhar). Konsep
ini memiliki makna yang mendalam dalam memotret kehidupan sosial, ekonomi dan
politik masyarakat. Misalnya dalam masyarakat Indonesia, apabila menggunakan
konsep ashobiyah Ibn Khaldun maka
dapat dipastikan tingkat ashobiyah
antar komunitas, suku, daerah, adat istiadat yang diperkuat oleh regulasi
politik pemerintah mengenai otonomi daerah tentu sangat longgar, kecuali pada
beberapa daerah yang mempunyai suku-suku yang “terisolasi” dari modernisasi.
Dengan membuat contoh sederhana
bagaimana memahami perubahan sosial dalam konteks sosial Indonesia dengan
konsep ashobiyah Ibn Khaldun, maka
akan tampak proses disintegrasi sosial dan disintegrasi politik yang semakin
kuat, mengingat fenomena kemiskinan, kriminalitas dan pengangguran. Contoh ini
mungkin berlaku antara kurun waktu sistem politik yang belum ideal dan sistem
politik yang belum stabil. Di waktu yang lebih normal dan sehat, tingkat ashobiyah akan mengalami perbaikan dan
tampaknya akan menguat.
c. Teori
lain yang di kemukakan oleh Ibn Khaldun
1. Sosiologi
Politik Pokok Pemikiran Ibn Khaldun
Dalam
buku muqaddimah Ibn Khaldun telah
memperlihatkan ketajaman analisis mengenai kehidupan politik ( kekuasaan dan
negara ) yang aktual pada masanya, jatuh – bangunnya kekuasaan – kekuasaan
islam ( dinasti Islam ), baik diamati secara langsung maupun yang dialami
sendiri Ibn Khaldun, merupakan fenomena yang rekontruksi secara sistemmatis dan
teorotis dengan objektif dan kritis menjadi karya tulis yang momental.
Secara
umum, pemikiran politik Ibn Khaldun dapat diklasifikasikan ke alam dua hal
penting yaitu kekuasaan dan negara. Kedua konsep politik tersebut dapat
ditemukan dalam muqaddimah. Buku itu
sendiri sebagian besar memuat mengenai “ sosiologi politik “ dalam arti yang
sanngat luas, karena Ibn Khaldun membicarakan persoalan manusia, kebudayaan
atau peradaban, relasi sosial antar manusia, relasi antar kekuatan – kekuatan
sosial politik, dan bangunan identik politik masyarakat dalam zamannnya.
Sebagian kalangan sumber segala ilmu yang di bicarakan Ibn Khaldun adalah “
sosiologi “ , bagian – bagiannya mencakup bidang – bidang ilmu baru yang perlu
di kembangkan. Misalnya bisa menjadi cabang ilmu mandiri, menurutnya cabang –
cabnag ilmu tersebut belum pernah dijumpainya.
Untuk
memahami pemikiran politik Ibn Khaldun yang berkaitan dengan kekuasaan dan
negara perlu menyimak beberapa asumsi yang dibangun oleh Rahma Zainudin ( 1992:
21-22 ) tentang konsep negara dalam struktur pemikiran Ibn Khaldun berikut ini
:
a. Konsep
kekuasaan dan konsep negara, dalam pendapat Ibn Khaldun, dipandang dari segi
asal – usulnya merupakan suatu kesinambungan dan bentuknya sempurna dalam
negara.
b. Kekuasaan
dan negara, dalam pemikiran Ibn Khaldun memberikan sebentuk keteraturan dan
ketentraman kepada kehidupan masyarakat manusia sehingga keduanya mutlak
penting bagi kehidupan masyarakat dan bagi potensi yang terdapat pada dirinya.
c. Hubungan
kekuasaan dalam masyarakatyang tingkatnya berada dibawah tingkat kekuasaan
negara.
d. Perkembangan
yang selalu terdapat dalam kekuasaan dan negara menimbulkan rotasi dalam kekuasaan dan negara itu. Perkembangan
dan dinamika itu terjadi karena tidak ada sesuatu pun yang kekal di alam
semesta.
e. Bagi
Ibn Khaldun politik pada pokoknya dalah kerjasama dan saling toling – menolong.
Tumbuh kembanganya negara menurut
Ibn Khaldun yaitu negara didirikan atas dasar kepentingan bersama untuk
menciptakan keseimbangan sosial, politik, ekonomi, hukum, budaya dan keamanan.
Negara merupakan asosiasi utama bagi terciptanya keseimbangan tersebut, karena
negara merupakan aktualitas kebebasan yang konkret. Melainkan kebebasan yang
dilindungi oleh peraturan perundangan. Faktor agama dalam sebuah negara menurut
Ibn Khaldun sangat penting.
Ibn Khaldun lebih melihat relasi
agama dan negara sebagai suatu keniscayaan, kendati agama bagi Ibn Khaldun
tidak dipotret dalam tataran ideal yang berbentuk abstrak, melainkan agama (
islam ) yang disaksikan, dijalankan dan dipraktikan oleh masyarakat pada
zamannya. Agama tidak hanya sekedar dogma abstrak, tetapi agama yang seluruh
ajarannya menurut Ibn Khaldun harus menjadi jiwa bagi bangunan negara yang
mulia atau negara yang terhormat.
Dalam kaitannya dengan pertumbuhan
dan perkembangan suatu negara, menurut Ibn Khaldun bahwa negara terbentuk
melalui proses kebudayaan, seperti ditulisnya berikut “ sejarah identik dengan
peradaban dunia “ tentang perubahan yang terjadi pada watak peradaban seperti
keliaran, keramah – tamahan, dan solidaritas golongan. Suatu negara dalam
pandangan Ibn Khaldun akan terbentuk dari suatu proses politik yang tidak hanya
melalui jalan damai, tetapi justru banyak terjadi dalah melalui revolusi dan
pemberontakan.
2. Pemikiran
Ekonomi Ibn Khaldun
1. Dimensi
Ekonomi dalam Filsafat Ibn Khaldun
Berdiri dan tegaknya suatu
masyarakat, bangsa dan negara menurut Ibn Khladun akan ditentukan oleh
stabilitas ekonomi, oleh karena itu suatu negara berdiri atas pastisipasi
masyarakat dengan membayar pajak atau zakat sesuai dengan yang di sunnahkan
oleh agama.
a. Filsafat Ekonomi Ibn Khaldun
Dalam
kaitannya dnegan eksistensi manusia antar interaksi kekuatan-kekuatan sosial
dalam masyarakat menurut Ibn Khladun akan ditentukan pula oleh orientasi
tindakan sosial individu dalam mencapai kesejahteraan kolektif.
Untuk
mencapai kebahagiaan menurut Ibn Khaldun dapat dilakukan dengan meningkatkan
penerimaan negara melalui sumber-sumber pendapatan negara yang bersumber dari
masyarakat sendiri dengan menerapkan sistem pajak. Selain pajak, menurut Ibn
Khaldun, negara juga dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran dengan
menerapkan sitem bea cukai. Hasil dari pajak dan bea cukai itu akan
dipergunakan untuk meningkatkan kesejahteraan para abdi negara seperti tentara,
administrator, maupun pegawai-pegawai yang bekerja untuk memperlancar urusan
kenegaraan.
b.
Prinsip Ekonomi Modern
dalam Pemikiran Ibn Khaldun
Dalam
muqaddimah, Ibn Khaldun menjelaskan
keterkaitan faktor-faktor sosial, moral, ekonomi dan politikyang saling berbeda
namun saling berhubungan satu dengan yang lainnya begi kemajuan maupun
kemunduran bagi sebuah lingkungan masyarakat atau pemerintahan sebuah wilayah
(negara)
Aspek
ekonomi penting dalam pemikiran Ibn Khaldun berkaitan erat dengan kehidupan
kemanusiaan dan survive-nya seseorang
dalam kehidupannya. Motivasi kerja dan usaha diorientasikan sepenuhnya pada
penumpukan modal (kapital), tetapi bermakna secara hakiki bagi survive
seseorang dalam kehidupan sosialnya.
c. Produksi
dan Pembagian Kerja dalam Teori Ibn Khaldun
Ibn
Khaldun melihat secara mendasar yang membedakan kedua jenis masyarakat adalah
peradaban dan proses produksi serta dalam pembagian kerja dalam masyarakat.
Tipologi yang direfleksikan oleh masyarakat badawa
adalah tipologi masyarakat yang identik dengan
pertanian dan cocok-tanam, sementara masyarakat hadharah merefleksikan peradaban kota yang pola produksi dan
pembagian kerjanya berdasarkan keahlian.
1. Proses
produksi masyarakat
2. Teori
nilai dalam proses produksi
3. Pembagian
kerja.
BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Ibn Khaldun seorang tokoh dan
pemikir muslim, nama lengkapnya Abd al-Rohman (Abu Zaid) bin Muhammad bin Abi
Bakar bin Hasan. Ia dilahirkan di Trus pada tanggal 17 Mei 1332 M, dari
keluarga Aristokrat yang berasal dari Hadramaut, dan wafat di Kairo pada 17
Maret 1406 M.
Teori
lain yang di kemukakan oleh Ibn Khaldun
1. Sosiologi
Politik Pokok Pemikiran Ibn Khaldun
2. Pemikiran
Ekonomi Ibn Khaldun
DAFTAR PUSTAKA
Jurdi,
Syarifuddin, 2012, Awal Mula Sosiologi
Modern, Yogyakarta: Kreasi Wacana
diakses pada Selasa, 26 Februari 2013 pukul 19.07
Label:
Materi kuliah
Andong ikon kendaraan tradisional sebagai solusi Malioboro bebas macet
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Malioboro merupakan tempat wisata yang digemari oleh
wisatawan lokal maupun manca negara. Tempat wisata ini merupakan salah satu
tempat wisata belanja yang ada di Yogyakarta. Tidak jarang para wisatawan
menghabiskan waktunya untuk memburu barang-barang dengan sentuhan khas
Yogyakarta seperti batik dan beberapa pernak-pernik lainya. Harga yang
ditawarkan pun cukup bersahabat bagi kantong para pelajar dan mahasiswa
sehingga tempat ini menjadi tujuan wisata utama saat bertandang ke Yogyakarta.
Tidak hanya menjadi tempat favorit para wisatawan, Malioboro pun menjadi tempat
favorit bagi penduduk asli Yogyakarta
untuk berbelanja ataupun hanya sekedar menghabiskan waktu. Malioboro seperti
menjadi magnet bagi kota Yogyakarta. Sentuhan lokal dapat tergambar sari
beberapa aspek yang ada di malioboro. Selain batik dan pernak-pernik lainnya
yang berbau tradisional, alat transportasi tradisional pun dapat mudah
ditemukan disekitar kawasan ini. Andong, menjadi alat transportasi tradisional
yang sampai sekarang masih memikat hati para wisatawan lokal atau pun wisatawan
asing. Disamping terdapat andong, becak pun masih menjadi alat transportasi
tradisional yang digemari masyarakat Yogyakarta. Daya tarik Malioboro tidak
berhenti diseputar batik dan andong. Letak Malioboro pun dapat menggambarkan
secuil dari Yogyakarta. Dari kawasan bersejarah hingga aktivitas pemerintahan,
semua terdapat di kawasan Jl. Malioboro ini. Begitu besar ketertarikan
masyarakat terhadap Malioboro menjadikan tempat ini selalu ramai dikunjungi
siang dan malam. Atensi yang demikian menyebabkan Malioboro menjadi rentan
terhadap limbah sampah. Besarnya pengunjung Malioboro yang berasal dari
berbagai kalangan, asal, dan karakteristik menjadikan Malioboro berpontensi menggasilkan
limbah sampah yang cukup besar. Kebersihan perlu diperhatikan mengingat
Malioboro merupakan tempat wisata yang diminati oleh para wisatawan. Ada yang
sangat disayangkan pada kebersihan Malioboro saat ini. Pada beberapa titik
dekat penjual makanan berat seperti bakso, mie ayam, nasi rames, dll terdapat
genangan air limbah sisa makanan. Keadaan ini mengganggu pemandangan dan
memberikan kesan bahwa tempat ini kotor. Malioboro, merupakan kawasan yang
sarat dengan kekhasan Yogyakarta, begitu tingi antusiasme wisatawan terhadap
tempat wisata ini.Malioboro menjadi salah satu pilihan wisata yang utama. Atmosfer
khas tradisional Yogyakarta masih terasa di tempat wisata Malioboro ini.
Tidak hanya itu, pemandangan rutin
di Jalan Malioboro terjadi lagi. Apalagi kalau bukan kemacetan. Malioboro masih
tujuan wisata wajib bagi para pengunjung. Tidak ada kata yang mampu melukiskan bagaimana kondisi
kemacetan yang terjadi di Jalan Malioboro kota Yogyakarta. Kemacetan lalu
lintas tersebut sudah tidak lagi main-main lagi. Banyak sekali pengendara yang
saling mendahului tanpa aturan untuk mencapai tujuannya dengan lebih cepat
meskipun kondisi jalan sangat padat. Para pejalan kaki juga tidak lagi
memperoleh kenyamanan dan rasa aman. Hal ini dikarenakan banyak alternatif
jalan yang kemudian dipakai tidak pada tempatnya, seperti penggunaan trotoar
oleh para pengendara sepeda motor, dan pengendara mobil yang tidak memberikan
kesempatan bagi para pejalan kaki untuk menyebrang di zebra cross sehingga terkadang pejalan kaki hanya asal
menyeberang saja. Ironis, sangat beresiko bagi keselamatan para pejalan kaki
yang seharusnya mendapatkan fasilitasnya. Resiko bukan hanya dialami oleh para
pejalan kaki tapi juga oleh para pengendara kendaraan bermotor itu sendiri.
Pengendara kendaraan bermotor yang saling kebut itu bisa saja mengalami
kecelakaan. Kerugian selanjutnya juga adalah mengenai biaya lebih yang harus
dikeluarkan para pengendara karena terjebak kemacetan dalam jangka waktu yang
cukup lama. Kerugian lainnya bisa berupa rusaknya komponen kendaraan sebelum
waktunya dan kondisi jalanan yang semakin memburuk karena asap kendaraan yang
dapat mematikan tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitarnya. Kerugian lain yang
paling mencolok, yaitu waktu berharga yang terbuang karena kemacetan
berkepanjangan yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas individu maupun
perusahaan. Efek panas dari matahari saat kemacetan terjadi juga membuat
kondisi psikis pengendara terganggu, seperti munculnya sikap tidak toleran,
gampang marah, dan stress.Kemacetan
parah lalu lintas di Jalan Malioboro Yogyakarta sebenarnya tidak terjadi begitu
saja. Selain ketidakdisiplinan para pengendara dan pejalan kaki, tidak adanya
penataan ulang kota juga sangat berpengaruh. Semuanya hanya seperti perencanaan
yang tidak terealisasikan. Lihat saja contohnya, yaitu banyaknya penjual souvenir dan keperluan lainnya yang
semakin banyak dan awut-awutan.
Kemacetan jalan juga bertambah parah dengan adanya sampah-sampah yang ada di
sepanjang Jalan Malioboro. Sampah-sampah tersebut berbau busuk dan menyumbat
saluran-saluran air sehingga mengakibatkan banjir saat musim penghujan.
Karena itulah kawasan tersebut harus ditata dengan baik terutama lalu
lintasnya.Pengelolaan jalan menuju Malioboro harus dikaji ulang guna memberikan
kemudahan akses menuju kawasan tersebut. Selain itu beberapa jalan juga harus
dibebaskan dari tempat parkir. Kerap terjadi, parkir yang menggunakan bahu
jalan justru menambah parah kemacetan. Masalah kemacetan tidak bisa dipisahkan
dari perparkiran. Malioboro tidak memiliki kantong parkir yang memadai.
Akibatnya, kendaraan kerap melebar di bahu jalan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
andong sebagai ikon kendaraan tradisional malioboro ?
2. Bagaimana
andong menjadi sumber ekonomi masyarakat kota Yogyakarta ?
3. Bagaimana
peranan andong dalam mengatasi macet dan polusi udara di kawasan malioboro ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk
mengetahui andong sebagai ikon kendaraan tradisional malioboro.
2. Untuk
mengetahui andong sebagai sumber ekonomi masyarakat kota Yogyakarta.
3. Untuk mengetahui peranan andong sebagai ikon
kendaraan tradisional mampu mengatasi kemacetan dan polusi udara di kawasan
malioboro.
D. Manfaat Penulisan
1.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Andong Sebagai Ikon Kendaraan
Tradisional Malioboro
Andong atau biasa disebut dengan dokar, adalah salah satu alat
transportasi tradisional yang menjadi khas kota Yogyakarta. Julukan lain dari
andong adalah delman, bendi atau sado. Andong adalah kereta beroda empat yang
ditarik dengan kuda. Andong yang ada di Yogyakarta berbeda dengan andong yang
ada di beberapa daerah lain seperti Surakarta dan Cirebon. Perbedaannya adalah
meski sama-sama beroda empat, andong di Yogyakarta bentuknya lebih kecil.
Dahulu kala, andong hanya boleh digunakan oleh para bangsawan terutama raja dan
keluarganya. Di awalabad XIX hinga abad XX, andong menjadi salah satu penanda
status sosial para kerabat keraton. Hal ini dimulai ketika Mataram dipimpin
oleh Sultan Hamengku Buwono VII, sekitar awal abad ke 19. Ketika itu rakyat
jelata tidak boleh menggunakan andong. Rakyat hanya menggunkan gerobak sapi.
Pada pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII,andong berangsur mulai digunkan
mayarakat umum walaupun masih terbats bagi kalangan pengusaha dan pedagang
saja. Tapi sekarang andong bisa digunakan oleh sipa saja bahkan menjadi
transportasi publik dan pariwisata. Untuk mengetahui lebih detail tentang
sejarah andong ini, dapat dilihat di Museum Kereta yang berada di sebelah barat
Keraton Yogyakarta. Keunikan menggunakan andong di Yogyakarta ini adalah adanya
dua jenis andong yaitu andong biasa dan andong wisata. Andong wisata dapat
dengan mudah dikenali karena sang kusir andong berpakaian lengkap menggunakan
pakain Jawa seperti blangkon,sorjan lurik dan celana panjang tiga per empat
(3/4) berwarna hitam. Pada bagian depan andong wisata tertera nomor andong yang
ditulis dengan angka Jawa. Andong wisata hanya dapat ditemui di kota Yogyakarta
ini karena unitnya sangat sedikit. Di Yogyakarta dahulu merupakan satu
kebanggaan tersendiri jika mempunyai kendaraan ini, karena ini sebagai penanda
satus sosialnya yankni sebagai bangsawan atau priyayi atau kerabat keraton. Hal
ini terjadi pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII, waktu itu rakyat
kecil tidak diperkenankan untuk menggunakan kendaraan tersebut. Namun pada masa
Sultan Hamengku Buwono VIII barulah kendaraan ini boleh digunakan oleh
masyarakat umum meskipun masih di terbatas bagi masyarakat berada yakni
kalangan pengusaha dan pedagang saja. Andong saat ini dapat anda nikmati tanpa
harus memandang status sosialnya, dan dapat anda temui di beberapa tempat
mangkalnya, yang terbanyak adalah di sepanjang malioboro ataupun sekitar Pasar
Beringharjo dan juga Alun alun utara Yogyakarta. Di empat
kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta ini pun dapat anda jumpai namun tidak
terlalu banyak. Dari jenisnya andong inipun saat ini dibedakan menjadi 2 jenis
yakni andong wisata dan andong non wisata. Bentuk dan ukuran serta fungsi
sebenarnya sama saja hanya saja untuk andong wisata lebih bersih dan kusirnya
menggunakan pakain jawa yang berupa surjan lurik, blangkon, dan celana
panjang hitam. Jumlah andong wisata ini tidak terlalu banyak hanya sekitar 100
unit dan hanya di kota Yogyakarta saja. Secara pasti tarif yang dikenakan tidak
ada hanya berdasarkan kesepakatan saat akan naik, namun untuk rute malioboro,
keraton kasultanan yogyakarta, tamansari kemudian melewati pojok benteng kulon
ke arah utara dan berakhir kembali di Malioboro tarif yang yang dibayar kurang
lebih Rp. 25.000,- hingga Rp. 50.000,-. Keberadaan andong tersebut sangat cocok
untuk mendukung kekhasan kota yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata, karena
menikmati kendaraan ini tidak dapat anda jumpai di daerah lain.
B.
Andong
Sebagai Sumber Ekonomi Masyarakat Yogyakarta
Di
era yang serba modern ini, andong merupakan salah satu kendaraan tradisional
yang masih tetap eksis di Yogyakarta, khususnya di Malioboro karena andong yang
notabene adalah ikon Malioboro ini masih sangat digemari oleh wisatawan lokal
maupun wisatawan mancanegara. Oleh karena itu, andong menjadi alternative
matapencaharian sebagian kecil masyarakat Yogyakarta. Puluhan tahun lalu andong merupakan
salah satu angkutan umum massal primadona masyarakat perkotaan, namun seiring
pesatnya perkembangan dunia otomotif, lambat tapi pasti ia pun mulai mendapat
saingan yang tak bisa dikejarnya. Posisi andong akhirnya bergeser, dari salah
satu alat transportasi utama menjadi sekadar peninggalan masa lalu yang lebih
banyak bertebaran di tempat-tempat rekreasi. Di Yogyakarta sendiri kendaraaan
bertenaga kuda ini dapat dijumpai di Malioboro dan sekitar alun-alun selatan
Yogyakarta. Hampir setiap hari, khususnya pada akhir pekan, andong dengan setia
memberi hiburan bagi para pelancong yang ingin merasakan sensasi menaiki kereta
kuda tersebut. Ahmad Heryana adalah salah satu dari kusir andong yang saban
hari mengais rezeki di kitaran Malioboro. Secara turun-temurun pekerjaan
menjadi kusir andong dilakoni oleh keluarganya. Seakan seragam dengan perkataan
Ahmad, pun demikian pula halnya Asep Udin. Lelaki yang telah puluhan tahun
menarik andong ini sudah tiga tahun terakhir berpindah operasi ke Malioboro.
Asep sebelumnya juga menarik andong di alun-alun utara, namun jumlah penumpang
yang kian menyusut memaksanya untuk mencari tempat mangkal baru. Malioboro lalu
menjadi pilihannya, “orang jaman sekarang lebih senang naik angkutan umum
bermotor atau menggunakan kendaraan pribadi dibanding naik andong, lebih
efisien dan menghemat waktu,” tutur Asep dengan suara sedikit bergetar.
Akan tetapi, bukan berarti andong
sebagai alat transportasi benar-benar mati, di pinggiran-pinggiran kota, ia
ternyata masih cukup banyak berseliweran menjalankan tugas utamanya: menjadi
alat transportasi massal.
Penelusuran terhadap andong ini lalu
mengantarkan kami kepada Syafii, seorang kusir andong yang beroperasi di
sekitar pasar Ujung berung. Secara melankolis, Syafii bisa dikatakan sebagai
kusir andong sejati. Lebih dari separuh hidupnya dihabiskan di atas andong. Tak
sedikitpun terbersit di kepalanya untuk berpindah tempat mangkal seperti Ahmad
dan Asep. Setiap hari ia dengan setia mengangkut para pengunjung pasar. “
Rejeki saya mungkin memang di sini, lagipula saya sudah memiliki pelanggan
tetap,” kecapnya.
Pelanggan tetap dan andong sarat
muatan tentu saja bukan berarti kondisi ekonomi Syafii berkecukupan. “ Wah,
kalau berbicara penghasilan, mah, mungkin penghasilan teman-teman saya yang
beroperasi di tempat-tempat rekreasi mungkin jauh lebih besar. Kusir seperti
saya yang benar-benar menjadikan andong sebagai alat transportasi tak bisa
mematok tarif yang terlalu tinggi. Jika terlalu tinggi, bisa-bisa para
penumpang saya beralih naik ojeg,” ujar Syafii.
Usia lanjut dalah alasan yang
kemudian dilontarkannya. Selain itu, romansa andong adalah hal lainnya yang
membuat Syafii lebih betah “berdinas” di daerah operasinya sekarang.
“ Ada begitu banyak kenangan,
kepedihan, sekaligus kebanggaan dengan menjadi kusir yang benar-benar
menjadikan andong sebagai alat transportasi,” tukasnya pelan, “mungkin alasan
saya terdengar agak berlebihan, tapi, ya begitulah yang saya rasakan,” Syafii
buru-buru menambahkan, kali ini, entah mengapa, suaranya terdengar begitu
bersahaja.
Andong Syafii kini telah penuh
dijejali penumpang. Menikmati detik-detik terakhir bersama Syafii hari itu
tiba-tiba begitu saya nikmati. Tak lama kemudian suara ketoplak khas andong
terdengar di telinga seiring andong sang kusir tua itu pelan-pelan menghilang
dari pandangan. Sambil melangkah pergi, saya keluarkan buku catatan saya. Pena
di tangan lalu bergerak menggores dengan cepat, menuliskan sebuah catatan
pendek, “Syafii, Ahmad, dan Asep.
Manusia yang begitu mencintai kehidupan sederhananya. Sang kusir yang tak
sekadar menjadikan andong sebagai mata pencaharian utama, namun lebih dari itu,
mereka dedikasikan hidupnya demi sebuah kendaraan tradisional agar terus hidup
melaju dan tak pernah tergusur.”
C.
Andong Bebaskan Malioboro Dari Macet
dan Polusi
Kemacetan
adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh
banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi
di kota-kota besar, terutamanya yang tidak
mempunyai transportasi publik
yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan
kepadatan penduduk. Polusi udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik,
kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat
membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan
kenyamanan, atau merusak properti. Andong sebagai kendaraan utama di kawasan
malioboro memberikan corak tersendiri bagi jogja, disamping andong tidak
memberikan polusi udara, andong juga ramah lingkungan yang membuat kawasan
disekitar malioboro bebas asap kendaraan bermotor. perlunya pemerintah
menggalakan kepada masyarakat jogja untuk melestarikan budaya andong, agar
andong sendiri tidak punah. kendaraan
bermotor yang melintasi malioboro menurut Hasil pendataan menunjukkan jumlah
kendaraan roda dua dan empat yang masuk ke Jalan Malioboro berkisar antara 50
hingga 100 unit per menit, Badan Lingkungan Hidup (BLP), Pemprov DIY, dari
hasil pemeriksaan pada bulan Maret dan September 2009 tingkat polusi udara di
kawasan Malioboro sudah di atas ambang batas yakni sebesar 73,7 padahal baku
mutunya 7,0 dan Pb-nya 1,13 sedangkan baku mutu-nya 2. Jl.Malioboro kadar CO2 :
14,667 ppm, dan kendaraan yang
didominasi oleh kendaraan bernomor pelat luar Yogyakarta. Kemungkinan
ini merupakan kendaraan para wisatawan yang ingin berlibur di jogja. Hal ini
memberikan efek buruk bagi udara malioboro yang notabene sebagai tempat tujuan
utama wisata, seharusnya malioboro bebas dari macet dan polusi agar wisatawan
yang berkunjung merasa nyaman dan tenang, tidak semrawut seperti sekarang,
perlunya langkah untuk pemerintah mendorong andong dan becak sebagai kendaraan
utama di malioboro agar kawasan tersebut terbebas dari kepulan asap kendaraan
bermotor. Asap kendaraan bermotor yang mengandung zat berbahaya bagi kesehatan.
Seperti karbonmonoksida dan timabal, jika tidak adanya perhatian terhadap
kendaraan yang melintasi di jalan malioboro, mungkin 10 tahun kedepan malioboro
seperti Jakarta yang tingkat kemacetannya sangat parah dan tingkat pencemaran
udara yang ditimbulakan asap kendaraan bermotor sangat tinnggi. Hal ini agar
andong tidak punah karena tergerus oleh kendaraan yang modern, pemerintah jogja perlu memperhatikan andong
agar lebih di perhatikan. Dengan sistem manajemen pengolahan kawasan malioboro
yang baik malioboro bisa terhindar dari macet. Misalnya: andong yang beropersai
di malioboro berjumlah 50 andong dan 50 becak, dengan perkiraan panjang jalan
malioboro sekutar 200 meter kita membagi 5 halte yang berisikan 10 andong dan
10 becak, jarak antara halte satu dengan yang lainnya 40 meter
hal ini akan memudahkan bagi penumpang dan bagi pemilik andong juga mendapatkan
penghasilan yang merata, dengan tertata rapih jalan di malioboro akan bebas
dari macet.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Kota Jogja dengan segala keindahannya memiliki sebuah daya
tarik yang sangat diminiati oleh pengunjung baik lokal maupun manca negara.
Salah satu koridor Jalan yang berada di Kota Jogjakarta yang memiliki image
kawasan pariwisata adalah Jalan Malioboro. Kondisi Jalan Malioboro yang semakin
tahun semakin padat menimbulkan sebuah fenomena yag selalu terjadi di daerah
perkotaan yakni kemacetan. Bila dilihat pada waktu-waktu tertentu, kondisi
Jalan Malioboro memang sangat padat. Ditakutkan dengan adanya kemacetan yang
selalu terjadi di Jalan menuju malioboro atau bahkan di Jalan Malioboro akan
merusak image yang telah dimiliki. Bila melihat jalanan Malioboro kita akan
menemuhi berbagai tipe kendaraan baik motorized maupun unmotorized yang saling
berhubungan langsung tanpa ada pembatasan tipe kendaraan yang melewati jalan
tersebut. Hal ini juga mengindikasikan kemacetan yang terjadi di Jalan
Malioboro saat ini juga disebabkan tidak adanya manajemen transportasi yang
baik dalam pengaturan jenis kendaraan yang boleh melewati jalan
tersebut.Strategi Penanganan Permasalahan Melalui Manajemen Perkotaan. Sebagai
pusat pariwisata tidak dapat dipungkiri bahwa akan banyaknya kendaraan yang
melewati dan akan berkunjung ke koridor jalan tersebut semakin meningkat
sehingga terjadi kemacetan. Dengan adanya volume kendaraan yang semakin
meningkat dan sudah melibihi ambang kapasitas jalan diperlukan sebuah manajemen
yang mengatur kinerja jalan yang ada. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah
mengkaji sekaligus memperbaiki sistem manajemen transportasi yang ada di Jalan
Malioboro. Dilihat dari potensi yang Jalan Malioboro yang memiliki jalur
pedestrian yang baik dan penggunaan lahan di sepanjang jalannya merupakan
perdagangan, ruas jalan ini cocok untuk menjadi jalur pedestrian.
B.
Saran
Berdasarkan solusi yang kami
tawarkan semoga ada tindakan yang nyata serta dukungan dari semua pihak yang
terkait dengan pemecahan masalah tersebut. Oleh karena itu, permasalahan di
Malioboro bukan lagi hanya sebatas wacana saja, namun harus ada program untuk
meningkatkan obyek wisata dan perekonomian. Program tersebut seperti adanya
sanksi tegas bagi para pelanggar Peraturan Daerah khususnya mengenai ketertiban dan kebersihan.Selain
itu, adanya kesadaran masyarakat untuk menaati peraturan, menjaga lingkungan,
ketertiban lingkungan. Jika sudah ada peraturan, tapi tidak ada kesadaran masyarakat, maka peraturan tersebut akan
sia-sia.
DAFTAR
PUSTAKA
http://forum.kompas.com/nasional/60285-strategi-penanganan-kemacetan-di-koridor-jalan-malioboro.html
ANTARA/Noveradika/Koz/hhttp://www.antarafoto.com/peristiwa/v1276229125/kualitas-udara-malioborop/10.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kemacetan
Label:
Materi kuliah,
sekitarku
Langganan:
Postingan (Atom)

